Ayat-ayat yang berhubungan dengan subyek pendidikan
1.
Q.S. Al-Rahman : 1-4
ß`»oH÷q§9$# ÇÊÈ zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ Yn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ çmyJ¯=tã tb$ut6ø9$# ÇÍÈ
Artinya: “Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan
Al-Qur’an. Yang telah menjadikan manusia. Yang mengajari manusia dengan
Al-Bayan.” (Q.S Al-Rahman : 1-4)
Kata ar-Rahman dalam konteks ini kaum musyrikin makkah tidak
mengenal siapa ar-Rahman sebagaimana pengakauan mereka yang direkam oleh
QS Al-Furqan [25] : 60. Dimulainya surah ini dengan kata tersebut bertujuan
juga mengundang rasa ingin tahu meraka dengan harapan akan tergugah untuk
mengakui nikmat-nimat dan beriman kepada-Nya. Disisi lain penggunaan kata
tersebut disini sambil menguraikan nikmat-nikmat-Nya, merupakan juga bantahan
terhadap meraka yang enggan mengakui-Nya itu.[1]
Kata ‘allama/mengajarkan memerlukan dua objek. Banyak ulama
yang menyebut objeknya adalah kata al-insan/manusia yang diisyaratkan
oleh ayat tersebut Thabathaba’i
menambahkan bahwa jin juga termasuk ,
karena surah ini ditujukan kepada manusia dan jin. Namun ada ulama yang
berpendapat malaikat jibril juga termasuk yang ajar-Nya, Karena bagaimana
mungkin malaikat itu dapat menyampaikan –bahkan mengajarkannya kepada Nabi
Muhammad SAW- sebagaimana dinyatakan dalam QS an-Najm [53]: 5. Bagaimana
mungkin malaikat Jibril mampu mengajarkan firman Allah itu kepada Nabi Muhammad
SAW kalau malaikat itu sndiri tidak memperolah pengajaran dari Allah SWT. Dis
sisi lain, tidak disebutkannya objek kedua dari kata tersebut, mengisyaratkan
bahwa ia bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh
pengajaran-Nya.
Kata al-Qur’an dapat dipahami sebagai keseluruhan
ayat-ayatnya yang enam ribu lebih itu, dan dapat juga digunakan untuk menunnjuk
walau satu ayat saja atau bagian dari satu ayat.[2]
Kata al-insan pada ayat ini mencakup semua jenis
manusia, sejak Adam as. Hingga akhir zaman.[3]
Kata al-bayan pada mulana berarti jelas. Kata tersbut disini
dipahami oleh Thabathaba’I dalam arti “potensi mengungkap” yaitu kalam/ucapan
yang dengannya dapat terungkap apa yang terdapat dalam benak. Pengajaran al-bayan
itu tidak hanya terbatas pada ucapan tetapi mencakup segala bentuk
ekspresi, termasuk seni dan raut muka. Bahkan menurut al-Biqa’i kata al-bayan
adalah potensi berpikir yakni mengetahui persoalan kulli dan juz’i
.
Di sisi lain, kita tidak perlu menyatakan bahwa pengajaran Allah
melalui ilham-Nya itu adalah pengajaran bahasa. Ia adalah penciptaan potensi
pada diri mausia dengan jalan menjadikannya tidak dapat hidup sendiri, atau
dengan kata lain menciptakannya sebagai makhluk sosial. Itulah yang mendorong
manusia untuk saling berhubungan, dan ini pada gilirannya melahirkan aneka suara yang disepakati
bersama maknanya oleh satu komunitas , dan aneka suara itulah yang merupakan
bahasa mereka. Memang kata ‘allama/mengajar tidak selalu daam bentuk mendiktekan suatu
kata jug aide, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki
peserta didik sehinnga pada akhirnya potensi itu terasah dan dapat melahirkan
aneka pengetahuan.[4]
2.
Q.S. Al-Najm: 5-6
¼çmuH©>tã ßÏx© 3uqà)ø9$# ÇÎÈ rè ;o§ÏB 3uqtGó$$sù ÇÏÈ
Artinya: “yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang
mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang
asli”.
[1] M.
Quraish Shihab,Tafsir Al Misbah Pesan,Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, vol.
13,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm:493
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar